Kamis, 17 Juni 2010

Kita Bukan Bonex atau Viking, Kita AREMANIA!!!!

Dikirim oleh Teddy Martono, Malang
Maaf kalau tulisanku ini tak berkenan buat para Aremania/Aremanita yang membacanya. Tapi aku menulis hanya untuk mengingatkan para Aremania/Aremanita untuk bisa menjadi lebih baik ke depannya. Aku senang Arema Indonesia Juara ISL 2009/2010 setelah bermain imbang 1-1 dengan PSPS Pekanbaru dan menang 5-1 atas Persija Jakarta yang membuat Benny Dolo tak dating konfrensi pers, malu mungkin. Bahkan sebelum melawan Persija, Aremania/Aremanita melakukan konvoi di kota Malang sampai menjelang puncaknya pada tanggal 2 Juni 2010.

Awalnya aku kira Aremania/Aremanita yang melakukan konvoi berjalan lancar dan damai. Aku yang bekerja di Surabaya, hanya bisa membaca-baca berita lewat FB atau Ongisnade.net. Tapi waktu aku lihat ada tulisan yang bilang Aremania anarkis, dengan memukul-mukul mobil atau motor ber plat L (Surabaya),aku sempat kaget, tapi aku anggap itu ulah supporter lain yang iri saja karena aku baca cuma dari Facebook. Lalu aku pulang ke Malang pada tanggal 2 Juni dan tahu sendiri, bagaimana macetnya pada tanggal tersebut, untunglah aku tanggal 1 sudah pulang.
Lalu aku kembali lagi ke Surabaya untuk bekerja pada tanggal 3. Ternyata temanku yang domisili di Surbaya, bilang ke aku bahwa motor temannya dipukuli oleh Aremania. Kaget juga aku, kok bisa Aremania jadi anarkis? Lalu aku juga baca di media berita, maaf aku lupa namanya, bahwa Bapak Eddy Rumpoko, Walikota Batu, meminta maaf pada tamu-tamu dari kota lain, terutama dari Surabaya dan Sidoarjo atas tindakan oknum Aremania yang memukul mobil atau menggores badan mobil. Apa ini kah Aremania yang terkenal dengan cinta damai atau ini hanya ulah oknum? Saat itu dalam pikiranku.
Memang Aremania mendapat lemparan batu dan bom Molotov waktu tour Batavia, tapi apa kekerasan harus dibalas dengan kekerasan kawan? Ingat kawan, kita bukan Bonek,bukan Viking yang tukang buat rusuh. Yang selalu melempar batu pada supporter yang bukan satu “saudara” dengan mereka.
Jika pun itu bukan Aremania tetapi itu adalah oknum, apakah dalam rombongan itu tak ada Aremania? Inilah yang harusnya kita benahi kawan. Memang banyak sekali Aremania yang cinta Arema, bahkan mungkin semua masyarakat kota Malang dan Kabupaten Malang adalah Aremania. Tidak bisa masalah seperti ini kita berikan pada korwil masing-masing, tetapi harus dibantu oleh kalian kawan, para Aremania untuk menghilangkan oknum-oknum seperti ini.
Kita Aremania, kita bukan Bonek,bukan Viking, tunjukkan bahwa kita ini berbeda dari mereka.Kita tidak anakris, kita cinta damai. Buat para tamu yang datang ke kota Malang menghargai para Aremania, tapi bukan karena takut tetapi karena sikap kita yang cinta damai.
Kita kan supporter yang dewasa, jangan kita nodai gelar The Best Supporter dengan hal-hal yang dilakukan oleh oknum-oknum yang mengatasnamakan Aremania ini.
Ayo kawan, kita buat Aremania menjadi supporter terbaik di Indonesia,bahkan terbaik di dunia supaya bisa menyaingi supporter-supporter dari Negara lain. Buat para petinggi-petinggi PSSI atau seluruh masyarakat Indonesia kagum pada kita.  Kita ini AREMANIA, Jiwa kita jiwa singa…Maaf sekali lagi jika tulisanku tidak berkenan….SALAM SATU JIWA!!! AREMA INDONESIA!!

Empat "PR" Setelah Juara

Dikirim oleh Agung Kurniawan, Satui, Kalimantan Selatan
Keluarga saya adalah salah seorang dari sekian banyak AREMANIA/AREMANITA yang merasakan kebahagiaan tak terkira ketika mengikuti kabar hasil akhir 1-1 melawan PSPS melalui status Sam Zul dan rekan-rekan AREMANIA lain di Facebook. Bahkan ayah saya yang kebetulan sedang terbang ke Pontianak menelepon dengan penuh antusias menanyakan hasil akhir AREMA pada pertandingan tersebut.


Setelah lewat 2 minggu dari salah satu momen paling bersejarah dalam perjuangan dan loyalitas tanpa batas AREMA dan AREMANIA/AREMANITA, ketika membaca berbagai berita dan komentar melalui media masa elektronik dan tentunya ONGISNADE.NET, euforia kegembiraan dan kebahagiaan tersebut mulai menyingkir dan digantikan oleh perasaan khawatir dan was-was akan kelangsungan dan kekompakan AREMA serta AREMANIA/AREMANITA.
Ada 4 hal yang menurut catatan saya layak untuk digarisbawahi dan diperjuangakan bersama oleh seluruh komponen AREMA, baik itu manajemen, pemain, pelatih, dan juga AREMANIA/AREMANITA sendiri.
Pertama. Tingkah laku AREMANIA/AREMANITA sudah melewati batas dan mulai memberikan keresahan di masyarakat. Sudah tidak jamannya lagi kehidupan sepakbola di Malang khususnya dan Indonesia pada umumnya menjadi momok bagi kehidupan sosial lainnya.
AREMANIA/AREMANITA sempat dinobatkan sebagai yang terbaik, panutan, dan menjadi inspirasi bagi beberapa kelompok suporter lainnya. Kondisi terakhir ini begitu menyedihkan. Loyalitas, fanatisme, dan luapan kegembiraan tanpa batas setelah mengangkat piala Presiden, ternyata telah membuat kita semua lupa daratan dan akhirnya melakukan tindakan yang sangat tidak terhormat sebagai AREMANIA/AREMANITA.
Saya tidak akan menyebut oknum, karena saya yakin seharusnya kita semua AREMANIA/AREMANITA bisa bersama-sama saling “mengingatkan” dan melakukan perbaikan.
Ini adalah PR terbesar AREMANIA/AREMANITA di seluruh dunia. Mari sekarang kita berhenti meneriakkan yel-yel juara untuk kembali merenung dan introspeksi diri beberapa menit. Apakah semua yang sudah kita lakukan memberikan dampak positif bagi AREMA dan kehidupan sosial lainnya di Bhumi AREMA tercinta. Semoga setelahnya kita bisa lahir kembali untuk menjadi AREMANIA/AREMANITA yang lebih loyal, fanatik, terhormat, dan berkode etik.
Kedua. Saya terkejut sekali membaca artikel mengenai Sam Ikul yang harus menerima kenyataan pahit. Dalam hati saya marah, walau tidak tahu juga harus marah kepada siapa. Serasa tidak percaya hal seperti ini bisa terjadi dalam tubuh komunitas AREMA dan AREMANIA/AREMANITA yang selalu dengan bangga menuliskan “Salam 1 Jiwa” di akhir kalimat.
Mana roh dari slogan tersebut?!? Mana ikatan satu jiwa tak terputuskan yang seharusnya mengikat seluruh komponen AREMA termasuk pemain, manajemen, pelatih, AREMANIA/AREMANITA, dan tentunya orang-orang yang berjasa di dalamnya?!?!
Sekali lagi, euforia juara telah membuat kita sedikit lalai akan hal penting ini. Seorang pahlawan AREMA harus menangis disaat seluruh elemen AREMA berteriak lantang akan gelar juara seakan mengubah malam menjadi siang. Sekali lagi, saya tidak rela hal ini terjadi dalam komunitas yang selalu saya cintai walau dalam perantauan.
Sam Ikul layak untuk berada di atas podium. Beliau layak menyentuh dan mencium Piala tersebut. Beliau layak diangkat semua pemain dan diarak keliling stadion. Saya juga tidak bisa seratus persen menyalahkan panpel pertandingan dimana memang ada campur tangan BLI disana. Tetapi tidak bisa dipungkiri kita memang telah lalai akan hal sepenting ini.
Saya harap, pihak panpel dan manajemen dapat berbesar hati untuk datang ke Sam Ikul guna memberikan klarifikasi dan meminta maaf dengan tulus akan kelalaian tersebut. Kehadiran pemain sepertihalnya Papa Njanka malam itu juga akan memberikan penghargaan tersendiri. Semoga pemain-pemain lain juga dapat melakukan hal yang sama. Harapannya, setelah insiden yang cukup memberikan tamparan berarti ini, kita semua terutama panpel dan manajemen dapat lebih memperhatikan dan mampu memberikan yang terbaik kepada para pahlawan AREMA.
Ketiga. Mengutip ungkapan Sam Ikul, “Juara bukan akhir, tapi sebuah cobaan”. Harusnya manajemen dapat memaknai lebih dalam dan mengimplementasikannya dengan segera bertindak untuk minimal mempertahankan tim ini dengan sigap mengenai kejelasan kontrak baik pelatih maupun pemain.
Saya memahami akan banyak sekali kendala seperti kejelasan jadwal kompetisi sampai masalah klasik keuangan. Tapi saya juga yakin semua bisa dijelaskan bila memang benar begitu adanya. Yang pasti manajemen harus menunjukan keseriusan yang benar-benar serius untuk mempertahankan sebagian besar tim ini, sehingga semua jajaran pelatih, pemain dan AREMANIA/AREMANITA dapat mengerti, memahami, dan menentukan pilihan sebagaimana mestinya.
Kalau memang dana terus menerus menjadi kendala, tolong disampaikan dan benar-benar terbuka, saya yakin AREMANIA/AREMANITA pasti tidak akan tinggal diam. Saya pribadi tidak ingin melihat Along, Njanka, Chmelo, Ridhuan, Esteban, Purwaka, Beny, Bustomi, Hermawan, Dendy, Kurnia, dll harus main untuk klub lain.
Sekali lagi saya ingin menekankan bahwa kesungguhan niat disertai dengan keterbukaan akan dapat menyelesaikan persoalan ini dan tercapai hasil yang optimal antara jajaran manajemen dan pemain/pelatih. Saya harap setelah melalu berbagai macam rintangan selama ini, manajemen AREMA dapat benar-benar menjadi yang paling profesional dengan segala keterbatasannya.
Keempat dan terakhir. Sedikit yang ingin saya sampaikan buat jajaran pelatih dan pemain disini dan sangat ingin semua memahami. Saya dan kami AREMANIA/AREMANITA seluruh dunia sangat mencintai kalian semua, Kontribusi kawan-kawan semua tak terhingga dengan membawa AREMA juara ISL tahun ini, suasana di squad AREMA saat ini juga begitu kondusif.
Dukungan AREMANIA/AREMANITA yang tak kenal lelah dalam menari dan menyanyi memberikan atmosfer tersendiri baik di dalam ataupun di luar stadion. Suasana yang mampu memenangkan pertandingan dan meredupkan para bintang lawan. Suasana yang begitu membakar gairah, memacu adrenalin, dan membangkitkan kebanggaan tersendiri sebagai bagian dari AREMA. Suasana yang saya yakin tidak semua tim memilikinya.
Tetapi saya memahami bahwa tim AREMA adalah tim yang tidak memiliki dana melimpah dan identik kekurangan dana dalam mengarungi musim 2009/2010. Tim AREMA adalah tim yang berjuang untuk profesional dalam keterbatasannya. Tim yang tidak didanai APBD dan terus berusaha untuk hidup bersama iringan AREMANIA/AREMANITA.
Tolong semua pemain dan pelatih dapat memahami ini. Kami AREMANIA/AREMANITA mencintai kalian semua. AREMANIA/AREMANITA tidak ingin melihat kalian yang kita cintai bermain untuk klub lain. Saya hanya bisa berharap punggawa-punggawa AREMA dapat memahami dan mencapai kesepakatan yang optimal dengan manajemen AREMA.
Salam 1 jiwa dari AREMANIA yang belum punya kesempatan lagi menari dan bernyanyi di bawah papan skor,
Salam 1 jiwa dari pedalaman hutan tropis Borneo, AK

Playstation:Arema Indonesia

Dikirim oleh Wisnu Rinaldi, Aremania Lampung
Gambar-gambar baru Arema Indonesia versi Playstation dari Aremania Lampung.















Minggu, 13 Juni 2010

Bagaimana Jika Indonesia Menjadi Salah Satu Finalis Piala Dunia 2014?


          Dan jika Indonesia dipilih jadi tuan rumah untuk FIFA WORLD CUP 2014 apakah yang akan dilakukan negri kita.Negeri kita punya banyak kekurangan dan juga kelebihan.Apabila pemain bola yang bermain di Indonesia mungkin akan merasa panas karena Indonesia termasuk Negara Tropis.Dan para pemain International itu bermain dimana?Apakah pemimpin Negara kita akan membangun stadion baru?seperti yang dilakukan afrika selatan?kita tidak tahu.

         Oh ya..... Mungkin ini yang akan menjadi maskotnya mohon dipilih:
 
                                                                          

Sabtu, 12 Juni 2010

Aremania Jalur Gaza

Aremania Jalur Gaza (Jalur Maut)
Dikirim oleh Rey Radika
Salam satu jiwa Arema Indonesia. Puncak prestasi Arema bukanlah bertengger di posisi puncak klasemen liga ISL, namun Kemenangan yg diraih pada setiap laga pertandingan Arema Indonesia dan menjadikan itu JUARA. Faktor2 dilapangan tidak hanya taktik dan teknik dari pelatih, tetapi dukungan dan antusiasme dari supporter Arema yaitu Aremania.

Aremania

Dimanapun Arema berlaga slalu ada Aremania yg mendukungnya, membuat para pemain bermotivasi ganda untuk menjalani setiap pertandingan.

Aremania yang tak pernah lelah mendukung tim kebanggan Arema Indonesia yg berlaga disetiap pertandingan. Tak terkecuali Aremania Jalur Gaza, sama dengan Aremania lain yang haus kreatifitas dan tak lelah memberikan dukungan terhadap tim pujaannya. Yang membedakan Aremania Jalur Gaza hanyalah letak geografi jalur gaza (Jalur Maut) dimana letak Jalur gaza (Jalur Maut) ini lepas dari Kabupaten Malang yaitu Pandaan, Tretes dan Trawas yg berdampingan dengan supporter lain seperti bonek, deltrasmania dan the lassak.

Walaupun jarak Pandaan ke Kepanjen cukup jauh, namun motivasi kami makin bertambah karena dukungan kami hanya untuk Arema Indonesia. Tak jarang setiap pulang dari mendukung tim kebanggan, kami sering mendapat sedikit gangguan dari oknum2 suporter lain. Luka2 akibat lemparan batu, kawan kami yg jadi bulan2an oknum tersebut. Namun dari itu semua kami tak kan pernah takut dan tak pernah luntur semangat untuk mendukung tim Kebanggaan Arema Indonesia. Karena kami Satu Jiwa untuk Arema Indonesia.

Aremania Jalur Gaza dulunya adalah Aremania pandaan yang lahir mulai tahun 2001 – 2002 dan mempunyai sekitar 100 orang. Sejak Arema Malang berganti Arema Indonesia, Aremania Pandaan berubah nama menjadi Aremania Jalur Gaza dengan meninggalkan sistem kedaerahannya karena Aremania Jalur gaza tidak berasal dari Pandaan saja namun juga dari, Tretes, dan Trawas.

Lahirnya Aremania Jalur Gaza ini tentu tidak bisa berdiri sendiri, namun dibantu oleh para dedengkot Aremania seperti Amin korwil sukorejo, Cak Sur tattoo dan Sam Helos Wagir. Aremania Jalur Gaza sudah memiliki KTA agar lebih mudah mengkoordinir dan tdk mudah disusupi oleh Oknum2 yg tidak bertanggung jawab.

Visi dan misi Aremania Jalur Gaza,Visi untuk mendukung Arema dimanapun berada, menjaga nama baik Arema dan Aremania. Misi Aremania Jalur Gaza untuk mendirikan sebuah korwil tetap, agar selalu bisa selalu mendampingi tim kesayangan Arema Indonesia. Aremania itu tidak kemana mana namun ada dimana mana, Kita tetap satu untuk Arema Indonesia. Salam satu Jiwa

Aremania Korwil Kongo: Bendera Arema Berkibar di Afrika selatan

Hari ini adalah saat bersejarah bagi rakyat Afrika Selatan. Namun, Aremania dan Arema Indonesia juga akan menorehkan sejarah karena benderanya segara berkibar di Piala Dunia 2010 Afrika Selatan.

Harie Pandiono Paimin sedang berharap-harap cemas. Pria yang menyebut diri Aremania Korwil DRC (Republik Demokratik Kongo) itu berancang-ancang mengibarkan bendera Arema Indonesia di salah satu stadion yang menggelar laga Piala Dunia di Johannesburg pada 27 Juni 2010.

“Dari Bumi Arema mengalir untuk Indonesia, Australia, USA, dipijaklah tanah Afrika (home of football) dikibarkan di FIFA World Cup 2010 tunggu di Johannesburg 25 Jun – 11 July 2010,” begitulah kalimat dalam email Sam Harie (panggilan Harie Pandiono).

Dalam kalimat singkat itu, Harie mencoba menjelaskan bagaimana perjalanannya selama bertahun-tahun. Setelah bekerja di perusahaan tambang raksasa Newmont Nusa Tenggara di Sumbawa, ia pindah ke Newmont Asia Pasific di Australia pada 2007. Di sela itu ia pernah bertugas di Colorado AS. Sedangkan sekarang ia mengais dolar sebagai Senior Project Admin/Cost Control Manager – Tenke Fungurume Mining at Freeport-McMoran Copper & Gold DRC.

Harie yang mengaku pernah tinggal di kawasan Sumbersari, Malang itu menuturkan, sejak lama mengidam-idamkan bendera Arema Indonesia berkibar di ajang sepak bola dunia. Ia ingin dunia tahu di Indonesia ada klub sepak bola profesional dengan pendukung fanatik, yaitu Arema Indonesia. Ke mana pun ia pergi selalu membawa bendera Arema, sekalipun kecil.

“Setelah Amerika, Australia, dan Asia Tenggara, sekarang Afrika di FIFA World Cup 2010 sekitar 2 – 3 tahun tinggal di sini. Tahun 2012 ayas berencana ke zazirah Arab (Abu Dabi, Emirat dan sekitarnya itu pun kalau ada lowongan di sana jadi sambil cari duit yo mengibarkan bendera) harus berkibar Aremania di sana, sebab sekarang daerah Arab Korwil Aremania masih melempem. Setelah itu ke Eropa, sebab sekarang melempem juga Aremania Eropa,” demikian isi surat elektronik Harie.

Harie sangat serius dengan bendera itu. Ia mengeluarkan duit beberapa juta rupiah untuk memesan bendera raksasa itu pada seorang teman di Malang. Setelah jadi bendera berukuran 6×8 meter seberat 10 kilogram itu dikirim melalui jasa pengiriman dan tiba di Kongo pada 28 Mei.

Dalam salah satu email-nya, Harie mengungkapkan ada doa bersama lintas agama di Kongo sebelum berangkat ke Afrika Selatan pada 19 Juni.

“Saya sudah nazar seandainya Afrika Selatan masuk semifinal, bendera Arema Indonesia ini (sekarang 6 meter x 8 meter seberat 10 kilo) akan dilipatkan menjadi 30 meter x 40 meter berat menjadi 50 kilo nantinya sebelum 11 Agustus 2010 (ulang tahun Arema Indonesia),” katanya dalam email lain dalam milis Arema.

Kecintaan Harie pada Arema tidak perlu diragukan. Ketika bertugas di Colorado pada 2003, ia nekat menghabiskan uang 20.000 dolar AS dan terbang sejauh 16.000 km selama 32 jam nonstop hanya untuk pulang ke Indonesia dan menyaksikan pasukan Singo Edan berlaga dan memenangi Copa Indonesia di Jakarta. Jumlah itu sangat tidak seimbang dengan harga tiket masuk stadion yang waktu itu hanya Rp 15.000.

“Ongkos US$20,000 + Rp 15.000 bisa buat nonton Barcelona di kandang selama 3 musim, tapi cuma bisa nonton Aremania sekali setahun karena jadi Korwil Aremania USA salah satu korwil terjauh di dunia,” tulisnya.

Dalam salah satu email di milis, Harie mengaku pulang sebentar ke Malang Maret 2010 untuk mengurus pembuatan bendera raksasa itu. “Setelah itu, April, harus balik ke Johannesburg untuk mengurus izin dan mengambil tiket Piala Dunia,” (onn/sur)

Dan berikut Adalah sebagian gambar dari Aremania Korwil Kongo:

Deal Or No Deal

Kontrak pemain yang memperkuat Arema Indonesia pada musim kompetisi 2009/2010 akan ditentukan manajemen pekan depan.


Kontrak baru: Dendi Santoso dkk merayakan gol Arema di Piala Indonesia. (foto: Adi Kusumajaya)

Pembahasan kontrak tersebut kemungkinan juga mengatur adendum kontrak pemain hingga pertandingan Piala Indonesia berakhir.

Menurut Media Officer Arema, Sudarmaji, tidak menutup kemungkinan pembahasan kontrak pemain juga membicarakan masalah kontrak untuk kompetisi musim depan, termasuk keberdaan lima pemain asing yang turut membawa Singo Edan juara ISL 2009/10.

“Ada beberapa pemain yang masa kontraknya berakhir Mei dan akhir Juni, padahal pertandingan babak delapan besar Piala Indonesia berlangsung 17-21 Juli 2010,” katanya seperti dilansir Antara.

Namun untuk pemain asing, pembicaraannya menunggu kepastian dari agen masing-masing pemain. Kelima pemain asing tersebut adalah Pierre Njanka, Esteban, Ridhuan Muhamad, Noh Alam Shah, dan Roman Chmelo.

Sebelumnya Ketua Yayasan Arema Indonesia, M Nur menyatakan akan mempertahankan sekitar 80 persen dari 27 pemain.

Pelatih Robert Alberts juga merekomendasikan pada manajemen untuk mempertahakan 80 persen pemain tim berlogo kepala singa itu, dan 20 persen lainnya diminta untuk mencari klub baru. (onn/ant)