Dikirim oleh Agung Kurniawan, Satui, Kalimantan Selatan
Keluarga saya adalah salah seorang dari sekian banyak AREMANIA/AREMANITA yang merasakan kebahagiaan tak terkira ketika mengikuti kabar hasil akhir 1-1 melawan PSPS melalui status Sam Zul dan rekan-rekan AREMANIA lain di Facebook. Bahkan ayah saya yang kebetulan sedang terbang ke Pontianak menelepon dengan penuh antusias menanyakan hasil akhir AREMA pada pertandingan tersebut.
Setelah lewat 2 minggu dari salah satu momen paling bersejarah dalam perjuangan dan loyalitas tanpa batas AREMA dan AREMANIA/AREMANITA, ketika membaca berbagai berita dan komentar melalui media masa elektronik dan tentunya ONGISNADE.NET, euforia kegembiraan dan kebahagiaan tersebut mulai menyingkir dan digantikan oleh perasaan khawatir dan was-was akan kelangsungan dan kekompakan AREMA serta AREMANIA/AREMANITA.
Ada 4 hal yang menurut catatan saya layak untuk digarisbawahi dan diperjuangakan bersama oleh seluruh komponen AREMA, baik itu manajemen, pemain, pelatih, dan juga AREMANIA/AREMANITA sendiri.
Pertama. Tingkah laku AREMANIA/AREMANITA sudah melewati batas dan mulai memberikan keresahan di masyarakat. Sudah tidak jamannya lagi kehidupan sepakbola di Malang khususnya dan Indonesia pada umumnya menjadi momok bagi kehidupan sosial lainnya.
AREMANIA/AREMANITA sempat dinobatkan sebagai yang terbaik, panutan, dan menjadi inspirasi bagi beberapa kelompok suporter lainnya. Kondisi terakhir ini begitu menyedihkan. Loyalitas, fanatisme, dan luapan kegembiraan tanpa batas setelah mengangkat piala Presiden, ternyata telah membuat kita semua lupa daratan dan akhirnya melakukan tindakan yang sangat tidak terhormat sebagai AREMANIA/AREMANITA.
Saya tidak akan menyebut oknum, karena saya yakin seharusnya kita semua AREMANIA/AREMANITA bisa bersama-sama saling “mengingatkan” dan melakukan perbaikan.
Ini adalah PR terbesar AREMANIA/AREMANITA di seluruh dunia. Mari sekarang kita berhenti meneriakkan yel-yel juara untuk kembali merenung dan introspeksi diri beberapa menit. Apakah semua yang sudah kita lakukan memberikan dampak positif bagi AREMA dan kehidupan sosial lainnya di Bhumi AREMA tercinta. Semoga setelahnya kita bisa lahir kembali untuk menjadi AREMANIA/AREMANITA yang lebih loyal, fanatik, terhormat, dan berkode etik.
Kedua. Saya terkejut sekali membaca artikel mengenai Sam Ikul yang harus menerima kenyataan pahit. Dalam hati saya marah, walau tidak tahu juga harus marah kepada siapa. Serasa tidak percaya hal seperti ini bisa terjadi dalam tubuh komunitas AREMA dan AREMANIA/AREMANITA yang selalu dengan bangga menuliskan “Salam 1 Jiwa” di akhir kalimat.
Mana roh dari slogan tersebut?!? Mana ikatan satu jiwa tak terputuskan yang seharusnya mengikat seluruh komponen AREMA termasuk pemain, manajemen, pelatih, AREMANIA/AREMANITA, dan tentunya orang-orang yang berjasa di dalamnya?!?!
Sekali lagi, euforia juara telah membuat kita sedikit lalai akan hal penting ini. Seorang pahlawan AREMA harus menangis disaat seluruh elemen AREMA berteriak lantang akan gelar juara seakan mengubah malam menjadi siang. Sekali lagi, saya tidak rela hal ini terjadi dalam komunitas yang selalu saya cintai walau dalam perantauan.
Sam Ikul layak untuk berada di atas podium. Beliau layak menyentuh dan mencium Piala tersebut. Beliau layak diangkat semua pemain dan diarak keliling stadion. Saya juga tidak bisa seratus persen menyalahkan panpel pertandingan dimana memang ada campur tangan BLI disana. Tetapi tidak bisa dipungkiri kita memang telah lalai akan hal sepenting ini.
Saya harap, pihak panpel dan manajemen dapat berbesar hati untuk datang ke Sam Ikul guna memberikan klarifikasi dan meminta maaf dengan tulus akan kelalaian tersebut. Kehadiran pemain sepertihalnya Papa Njanka malam itu juga akan memberikan penghargaan tersendiri. Semoga pemain-pemain lain juga dapat melakukan hal yang sama. Harapannya, setelah insiden yang cukup memberikan tamparan berarti ini, kita semua terutama panpel dan manajemen dapat lebih memperhatikan dan mampu memberikan yang terbaik kepada para pahlawan AREMA.
Ketiga. Mengutip ungkapan Sam Ikul, “Juara bukan akhir, tapi sebuah cobaan”. Harusnya manajemen dapat memaknai lebih dalam dan mengimplementasikannya dengan segera bertindak untuk minimal mempertahankan tim ini dengan sigap mengenai kejelasan kontrak baik pelatih maupun pemain.
Saya memahami akan banyak sekali kendala seperti kejelasan jadwal kompetisi sampai masalah klasik keuangan. Tapi saya juga yakin semua bisa dijelaskan bila memang benar begitu adanya. Yang pasti manajemen harus menunjukan keseriusan yang benar-benar serius untuk mempertahankan sebagian besar tim ini, sehingga semua jajaran pelatih, pemain dan AREMANIA/AREMANITA dapat mengerti, memahami, dan menentukan pilihan sebagaimana mestinya.
Kalau memang dana terus menerus menjadi kendala, tolong disampaikan dan benar-benar terbuka, saya yakin AREMANIA/AREMANITA pasti tidak akan tinggal diam. Saya pribadi tidak ingin melihat Along, Njanka, Chmelo, Ridhuan, Esteban, Purwaka, Beny, Bustomi, Hermawan, Dendy, Kurnia, dll harus main untuk klub lain.
Sekali lagi saya ingin menekankan bahwa kesungguhan niat disertai dengan keterbukaan akan dapat menyelesaikan persoalan ini dan tercapai hasil yang optimal antara jajaran manajemen dan pemain/pelatih. Saya harap setelah melalu berbagai macam rintangan selama ini, manajemen AREMA dapat benar-benar menjadi yang paling profesional dengan segala keterbatasannya.
Keempat dan terakhir. Sedikit yang ingin saya sampaikan buat jajaran pelatih dan pemain disini dan sangat ingin semua memahami. Saya dan kami AREMANIA/AREMANITA seluruh dunia sangat mencintai kalian semua, Kontribusi kawan-kawan semua tak terhingga dengan membawa AREMA juara ISL tahun ini, suasana di squad AREMA saat ini juga begitu kondusif.
Dukungan AREMANIA/AREMANITA yang tak kenal lelah dalam menari dan menyanyi memberikan atmosfer tersendiri baik di dalam ataupun di luar stadion. Suasana yang mampu memenangkan pertandingan dan meredupkan para bintang lawan. Suasana yang begitu membakar gairah, memacu adrenalin, dan membangkitkan kebanggaan tersendiri sebagai bagian dari AREMA. Suasana yang saya yakin tidak semua tim memilikinya.
Tetapi saya memahami bahwa tim AREMA adalah tim yang tidak memiliki dana melimpah dan identik kekurangan dana dalam mengarungi musim 2009/2010. Tim AREMA adalah tim yang berjuang untuk profesional dalam keterbatasannya. Tim yang tidak didanai APBD dan terus berusaha untuk hidup bersama iringan AREMANIA/AREMANITA.
Tolong semua pemain dan pelatih dapat memahami ini. Kami AREMANIA/AREMANITA mencintai kalian semua. AREMANIA/AREMANITA tidak ingin melihat kalian yang kita cintai bermain untuk klub lain. Saya hanya bisa berharap punggawa-punggawa AREMA dapat memahami dan mencapai kesepakatan yang optimal dengan manajemen AREMA.
Salam 1 jiwa dari AREMANIA yang belum punya kesempatan lagi menari dan bernyanyi di bawah papan skor,
Salam 1 jiwa dari pedalaman hutan tropis Borneo, AK